Pindahan..

Saya berencana untuk vakum dari blog ini (entah untuk sementara atau permanen). Untuk selanjutnya, saya akan aktif di apprayo.wordpress.com.

Posted in 1 | Leave a comment

Indonesia, negeri yang dibangun oleh rakyat kecil

Anda mengenal nama Pawirosetomo? Jika belum, tidak ada salahnya kita mengenal nama itu sekarang. Tanpa keberanian seorang Pawirosetomo, mungkin negara Indonesia tidak akan berhasil melalui masa kritis di awal kemerdekaannya. Peralatan siaran radio AURI yang digunakan untuk menyiarkan tentang Serangan Umum 1 Maret 1949, disembunyikan di dapur rumah petani Pawirosetomo. Siaran radio dari dapur itulah yang ditangkap All India Radio, dan kemudian diteruskan ke seluruh dunia, hingga akhirnya PBB tahu negara Indonesia masih ada.

Ayah teman saya, saat itu seorang pemuda desa, anggota Tentara Pelajar, dipercaya Pak Nasution untuk menjadi ajudannya saat masa revolusi dulu. Beliau memandu Pak Nas berpindah2 tempat menginap setiap malam, untuk menghindari sergapan Belanda. Beberapa usaha sergapan Belanda gagal, tidak saja berkat panduan ayah teman saya itu, tapi juga kekompakan warga desa setempat untuk menutupi keberadaan Pak Nas. Dari desa itu, Pak Nas dapat ikut mengoordinasi serangan2 terhadap Belanda.

Saya yakin ada banyak orang seperti Pariwosetomo dan ayah teman saya pada masa itu. Dalam masa revolusi dulu, negeri ini ditimang, dilindungi, dan diselamatkan oleh rakyat kecil, yang nama2nyapun kita tidak pernah tahu dan dengar. Rakyat kecil, yang sudah cukup bahagia tahu bahwa negerinya menjadi merdeka, yang terbersit untuk mendapat sederet bintang jasa dalam mimpipun tidak.

Sekarang, saat kata merdeka saja sering harus dicerna ulang untuk dapat kita serap artinya, apakah yang mereka lakukan dulu itu menjadi pudar maknanya?

Mungkin sekarang, kitalah rakyat kecil itu. Tugas menimang, melindungi, dan menyelamatkan negeri ini jatuh ke tangan kita. Tidak peduli apakah kita seorang petani, seperti Pawirosetomo, atau seorang pelajar, seperti ayah teman saya itu, tugas kita tetap sama.

Mari berangkat menyelesaikan tugas.

Posted in Indonesia | Tagged | Leave a comment

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Apa yang Anda pahami dengan kata cukup? Apa arti kata cukup buat Anda? Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan saat harus memaknai kata cukup. Petikan teks doa Bapa Kami yang sederhana di atas, seakan tidak lagi sesuai dengan zaman yang melaju makin cepat ini.

Makanan adalah kebutuhan harian manusia. Tiap hari, setiap orang, butuh makanan. Dan dengan makanan itu, manusia dapat melanjutkan hidupnya. Sederhana. Dengan bekerja, orang dapat membeli makanan untuk melanjutkan hidupnya. Sederhana? Sepertinya tidak sesederhana itu. Hidup di zaman sekarang tidak lagi cukup dijalani dengan cukup makan setiap hari. Kita harus bisa membaca dan menulis (dan oleh karena itu kita harus bersekolah). Kita juga harus sehat (muncul biaya kesehatan). Kita harus punya tempat tinggal (timbul biaya sewa atau biaya beli rumah). Tidak jarang tempat kita bekerja jauh dari rumah (timbul biaya transportasi). Dan seterusnya, dan seterusnya..

Seorang teman saya, tiap hari berdoa, “Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Dari usaha dagang yang dijalankannya, ia menargetkan sejumlah angka pendapatan tertentu yang ia pandang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (entah bagaimana ia menghitungnya). Jika pada hari itu ia telah mencapai angka yang ditargetkannya itu, tidak jarang ia menyarankan orang yang datang ke tokonya untuk kembali datang esok hari. Seandainya orang itu lebih memilih mencari toko lain, iapun tak berkeberatan. Aneh? Lucu? Bodoh? Suatu kali kisah ini menjadi bahan diskusi antara saya dan seorang teman yang lain. Sudut pandang teman yang ini menarik bagi saya. Ia berkata, “Justru mungkin karena ia paham betapa penghasilannya setiap hari sudah cukup terpenuhi sehingga berani melakukan hal yang semacam itu, Tuhan jadi sayang padanya, dan terus menolong dan memelihara kehidupan keluarganya tiap hari.”

Tiap hari kita bekerja keras, bahkan tidak jarang bekerja dengan amat sangat keras. Tapi kita lupa memikirkan apa makna cukup bagi kita.

Pekerjaan ayah teman saya membuatnya sering pergi berkeliling ke pelosok Indonesia. Di banyak masyarakat Papua, konsep menabung belum dipahami. Bagi mereka yang tinggal di tepi laut misalnya, tiap pagi mereka pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Ya, menyerok di tepi laut, dan bukan pergi menjala ikan ke tengah laut. Besoknya, mereka kembali pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Mereka menerima makanan hari itu, yang secukupnya. Menjadi masalah ketika orang2 dari peradaban yang lebih maju datang, dan mencoba memberi berbagai bantuan dalam berbagai rupa: pendidikan, bantuan dana, pengajaran keterampilan, dll. Dana yang diterima, langsung dibelanjakan sampai habis pada hari itu juga. Tidak ada konsep menabung dalam benak mereka. Bersekolah? Mengapa saya harus bersekolah, sedangkan kebutuhan harian saya sudah terpenuhi dengan pergi ke tepi laut? Itu mungkin pertanyaan mereka. Cerita ini sungguh menantang saya untuk memikirkan ulang makna cukup buat saya.

Kita hidup di zaman ketika berbagai kebutuhan muncul dalam pandangan kita. Ada kebutuhan yang sifatnya segera (anak sakit, harus segera dibawa ke dokter), ada kebutuhan yang sifatnya jangka panjang (sekolah, menabung untuk membeli rumah), ada juga kebutuhan yang sifatnya rutin. Banyak dari kebutuhan itu tak terhindarkan, dan harus dipenuhi. Tapi pertanyaannya masih sama, berapa banyak yang cukup bagi kita?

“Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Posted in Hidup | Tagged , , | 3 Comments

Insentif

Setiap hal yang dilakukan semua orang, selalu didorong oleh iming2 insentif, entah insentif itu berwujud ataupun tidak, entah besar atau kecil, entah di mata orang lain itu merupakan insentif atau bukan. Orang bekerja, karena ada insentif uang. Cuma uang? Bisa jadi tidak hanya karena uang. Tapi juga karena status sosial yang diperoleh dari pekerjaan itu. Atau karena ada insentif lain lagi. Orang menaati peraturan, karena ada insentif berupa terhindar dari sanksi. Orang melanggar peraturan? Ya bisa jadi karena insentif yang berupa terhindarnya dia dari sanksi dianggapnya tidak lagi memadai sebagai insentif yang layak diterima dari usahanya menaati peraturan.

Kira2 seperti itulah kerja insentif.

Tantangan bagi regulator, dalam level apapun – entah Ketua RT, Pak/Ibu Lurah, seorang ayah, dll, adalah menentukan bentuk dan letak insentif secara tepat. Aturan dari si ayah agar anak belajar tiap malam bisa saja tidak ditaati oleh si anak, karena insentif berupa ‘tidak dimarahi jika tidak belajar’ dianggap tidak cukup layak olehnya. Kenikmatan (?) tidak belajar lebih besar ketimbang ‘kesengsaraan’ dimarahi si ayah karena tidak belajar. Aturan agar kendaraan pribadi tidak masuk jalur busway, bisa saja dilanggar ketika jalur umum begitu macetnya, sehingga si pengendara lebih memilih mengambil resiko dengan masuk jalur busway. Banyak orang memilih beralih menggunakan LPG ketika menyadari bahwa minyak tanah makin sulit diperoleh, dan harganya makin mahal. Sekarang, orang kembali harus berpikir, ketika menyimak berita2 kompor gas yang meledak (terlepas dari faktor apapun penyebab ledakan itu), layakkah insentif murahnya dan mudahnya diperoleh LPG itu bila dibandingkan dengan resiko yang mereka lihat di berbagai media.

Insentif yang tidak ditawarkan dan diletakkan secara tepat, bisa mengakibatkan kacaunya tatanan dan perencanaan.

Contohnya? Baiklah. Ketika orang melihat peluang kerja dan peluang mendapat penghasilan yang layak di Jakarta amat besar, dianggap jauh lebih besar ketimbang di daerah2 lain, orangpun berbondong2 pergi ke Jakarta. Mungkin insentif itu tidak dengan sengaja dirancang dan dibuat, tapi itulah yang orang lihat.

Contoh lain? Baiklah. Banyak jabatan ditentukan bermasa kerja 5 tahun. Menurut saya, sistem 5 tahunan ini memberi insentif pada mereka yang menjabat untuk berjuang secara 5 tahunan, dengan klimaks perjuangan terletak pada awal dan akhir masa jabatan. Pada awal masa jabatan, karena janji mereka pada awal masa jabatan secara gencar ditagih orang2 yang mendudukkan mereka pada kursi jabatan tersebut. Pada akhir masa kerja, karena sebentar kemudian akan datang masa pemilihan atau penentuan, di mana terjadi penentuan diperpanjang atau tidaknya masa kerja mereka. Bila kita berharap, banyak kegiatan dirancang secara jangka panjang misalnya, saya khawatir kita telah menyusun sistem insentif yang salah untuk harapan itu. Sistem insentif yang ada mendorong orang, siapapun yang duduk pada jabatan itu, untuk bekerja secara 5 tahunan. Apakah semua pejabat demikian? Mungkin tidak. Ada yang bekerja secara hebat dan tekun sepanjang masa jabatannya. Bisa jadi karena ia meyakini adanya insentif non material, di luar soal gaji dan status.

Mmm… dan saya diharapkan memberi usulan atau saran, di ujung tulisan ini? Maaf, belum ada insentif yang layak bagi saya untuk melakukan itu :D

*Ide catatan ini muncul setelah berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku ekonomi populer, hampir setahun setelah dibeli :)

Posted in Budaya, Ekonomi | Tagged | Leave a comment

Take My Hand, Precious Lord

Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I am tired, I am weak, I am worn
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand precious Lord, lead me home

When my way grows drear
Precious Lord linger near
When my life is almost gone
Hear my cry, hear my call
Hold my hand lest I fall
Take my hand precious Lord, lead me home

When the darkness appears
And the night draws near
And the day is past and gone
At the river I stand
Guide my feet, hold my hand
Take my hand precious Lord, lead me home

Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I’m tired, I’m weak, I’m lone
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand precious Lord, lead me home

Lyrics by Thomas A. Dorsey
Song by George Nelson Allen

Posted in Hidup | Tagged | 15 Comments