Cermin kondisi pendidikan tinggi kita?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah email sebagai berikut:

salam kenal pak albert nama saya xxxx (Albert: namanya saya sembunyikan) .. saya mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik informatika di salah satu perguruan tinggi di jakarta..

saya tertarik dengan aplikasi rekam medis yg anda dan teman2 dari kunang kembangkan…. kebetulan skripsi saya mengambil topik tentang rekam medis pula..

adakah sekiranya saya bisa bertanya pada anda, sidplite itu dibuat menggunakan software apa…? dan apakah sekiranya teman2 dari kunang dapat membantu saya untuk mengirimkan tutorial dalam pembuatan rekam medis elektronik yang mirip dengan sidplite….

atau apakah teman2 dari kunang bisa juga membuatkan jasa untuk saya dalam pembuatan software rekam medis elektronik (semacam sidplite) namun dengan persyaratan teknis dari saya… (dengan harga terjangkau tapinya…)

mohon tanggapannya… terima kasih sebelumnya

Saya sungguh heran, mau jadi sarjana informatika macam apa mahasiswa ini ketika dia lulus? Baru mengerjakan skripsi saja sudah minta tolong orang lain mengerjakan skripsinya, lengkap dengan langkah-langkahnya. Jelas sekali dia tidak bersedia bersusah payah menganalisa masalah untuk kemudian memunculkan ide sebagai solusi atas masalah tersebut. Mau bayar, tapi belum-belum sudah nawar pula.

Singkatnya jawaban saya: saya bukan biro jasa pembuatan skripsi, dan saya merasa tidak mendidik Anda jika saya menanggapi permintaan Anda.

Pertanyaan saya: apakah ini cermin kondisi pendidikan tinggi kita?

About albert

Seorang pekerja IT sederhana di Yogya, yang pengiiiiin sekali ngeblog dengan lancar dan benar. Hehehe.. Selamat datang di sini!
This entry was posted in IT, Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Cermin kondisi pendidikan tinggi kita?

  1. wijayanto81 says:

    Mungkin memang sebagian besar berperilaku seperti itu, mudah menyerah dan mencari jalan pintas. Ini akibat dari system pendidikan cerdas cermat. Dimana semua siswa diharapkan untuk bisa menghafal, jika tidak dijawab “A” maka akan salah. Stigma tentang hal2 yang pasti itu menyebabkan daya analisa menjadi berkurang, tidak mau berfikir dan ingin segalanya itu instan dan siap saji

  2. martiepunya says:

    siap saji ya…kyk franchise makanan aja

    entah yg salah sistemnya atw orangnya. setuju bgt ama mas wijayanto, skrg ini smua yg dcap salah HARUS juga kita cap salah tanpa analisa lebih lanjut. Kurang suka juga tuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>