Kualitas layanan telekomunikasi Friday, 30 January 2009
Posted by albert in Hidup, Internet, Layanan publik. 7 commentsKemarin sore koneksi Telkom Speedy saya bermasalah, tidak bisa terhubung ke internet. Modem sudah menyala, setting tidak ada yang berubah, tetapi koneksi tak kunjung berhasil dilakukan. Padahal, pagi harinya koneksi masih berjalan lancar.
Sesiangan kemarin, saya ada acara di luar. Sepulangnya ke kantor, saya mendapat laporan dari rekan programmer di situ bahwa ada banyak telepon salah sambung yang masuk, katanya mencari kantor kargo. Kejadian semacam itu sudah beberapa kali terjadi (telepon salah sambung), tapi tidak sering. Saya tidak berpikir lebih jauh lagi soal ini, dan mengabaikan informasi itu. Sampai malamnya, koneksi Telkom Speedy belum jalan juga.
Pagi hari ini, saya menghubungi CS Telkom Speedy untuk melaporkan masalah pada koneksi tersebut. Laporan saya diterima dengan baik, dan dijanjikan akan segera dihubungi oleh teknisinya untuk penyelesaian masalah ini. Sayangnya hingga saat ini (malam harinya), saya belum dihubungi oleh mereka.
Siangnya, terpikir dalam benak saya untuk mencoba menghubung-hubungkan semua informasi yang ada: koneksi internet (yang berjalan via kabel telepon) bermasalah dan ada banyak telepon salah sambung yang masuk. Mendadak muncul pemikiran gila: jangan-jangan nomor telepon saya berubah? Segera saya coba menghubungi nomor handphone saya dengan menggunakan telepon kantor. Hasilnya? Ternyata pemikiran gila itu tadi BENARRRR!!!!! Nomor telepon yang masuk ke handphone saya bukan nomor telepon kantor saya!!! Jelas saja saya tidak bisa menggunakan Telkom Speedy!!
Segera saya menghubungi CS Telkom untuk melaporkan masalah ini. Laporan saya diterima dengan baik, dan dijanjikan akan diatasi dalam waktu 3 x 24 jam (lama benar???). Setelah selesai melaporkan masalah ini, baru terpikir oleh saya konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul dari masalah ini. Bisa-bisa tagihan telepon saya membengkak, gara-gara pemakaian dari pihak lain (yang mendapat nomor telepon saya) ditagihkan ke saya. Besok saya akan pergi ke kantor Telkom untuk mencoba mendapat penyelesaian segera.
Yang saya herankan dari kejadian ini adalah, bagaimana bisa kesalahan fatal semacam ini bisa terjadi? Hal konyol, tapi bisa sangat merugikan pelanggan. Semakin dipikir, semakin tidak percaya rasanya ada kesalahan semacam ini.Harapan saya, semoga masalah ini segera selesai, tanpa ada konsekuensi yang parah.
Update 31 Jan 2009, 14.30:
Genap setelah 2 hari sejak munculnya masalah ini, masalah ini sudah teratasi dengan baik. Terimakasih kepada para teknisi. Semoga masalah konyol semacam ini tidak terulang lagi. Sekarang saya tinggal menunggu apakah tagihan telepon bulan depan ada masalah atau tidak. Semoga tidak.
Atas dan Umum Thursday, 22 January 2009
Posted by albert in Hidup, IT, Pekerjaan. 7 commentsIde posting ini diawali dari kejadian hari ini tadi. Siang tadi, saya pergi ke kantor sebuah badan universitas (sengaja tidak saya sebutkan di sini). Ceritanya, setahun yang lalu kantor itu memesan sebuah software sederhana untuk membantu mereka mencatat dan melaporkan data keuangan mahasiswa. Nah, hingga saat ini, kurang lebih setahun kemudian, saya sudah membantu mereka sebanyak 3 kali untuk menyesuaikan format cetakan slip setoran pembayaran mahasiswa (untuk SPP, BOP, dll). Sebetulnya saya sudah buat agar bagian nama dan nomor rekening tujuan dapat mereka sesuaikan sendiri, karena menurut saya adalah wajar mengasumsikan adanya pergantian pejabat di kantor tersebut, sehingga nama dan nomor rekening tujuan perlu bisa disesuaikan dengan mudah. Yang tidak saya duga adalah, perubahan sebanyak 3 kali itu adalah karena mitra bank yang bekerja sama dengan universitas tersebut berganti, sehingga secara umum format slip setorannya juga akan berbeda.
Mungkin bagi sebagian besar orang, ini perkara sepele dan sederhana. Tapi dari keterangan petugas di kantor tersebut saya mendapati bahwa pada semester lalu mereka sudah mencetak sekotak besar kertas slip lengkap dengan logo bank di sudut kiri atas, yang hingga saat sekarang ini masih terdapat sisa yang lumayan banyak. Artinya, ada dana, waktu, dan tenaga yang terbuang di balik kejadian ini. Ini masih ditambah pula cerita dari petugas lainnya yang menyatakan, memang sering terjadi perubahan format dan tata cara pelaporan administrasi di universitas tersebut. Tiap kali ada perubahan, ada pelatihan dan seminar yang harus dia ikuti. Waks, berarti ada lebih banyak lagi dana, waktu, dan tenaga yang terbuang, untuk hal yang tidak esensial.
Saya sering menjumpai kejadian2 sejenis ini, yang intinya mengubah sesuatu yang tidak esensial, yang memakan dana, waktu, dan tenaga. Waktu saya masih di sekolah menengah dulu, saya mengalami perubahan dari SMA menjadi SMU. Sampai sekarang, saya tidak memahami betul apa esensi perubahan itu. Yang saya tahu hanyalah, terjadi perubahan kata, perubahan singkatan, perubahan logo sekolah, perubahan kop surat dan amplop, perubahan stempel sekolah, perubahan seragam sekolah. Malah sekarang katanya sudah balik lagi dari SMU ke SMA. Apa ya beda Atas dan Umum dalam singkatan itu?