Archive for the 'Pekerjaan' Category

Menggunakan satu mesin Drupal untuk lebih dari satu situs (Drupal multisite)

Artikel ini bersumber dari pengalaman saya sendiri. Saya mengasumsikan pembaca artikel ini sudah mengenal apa itu Drupal, juga fungsi dan cara penggunaannya. Bagi mereka yang belum tahu dan ingin mengenal apa itu Drupal, dapat mengunjungi situs berikut: www.drupal.org.

Sudah kira-kira satu tahun terakhir ini, saya mengerjakan banyak proyek pembuatan website dengan Drupal. Tiap kali ada proyek Drupal baru, tiap kali itu pulalah saya menginstall mesin Drupal untuk tiap proyek tersebut. Belakangan memang saya sudah membuat satu master Drupal dengan isian modul yang sering saya gunakan (nantinya tinggal ditambah atau dihapus satu dua modul, sesuai kebutuhan), sehingga lebih menghemat waktu. Namun rasanya ini tidak cukup, karena ruang harddisk yang dibutuhkan untuk tiap proyek Drupal (dengan menggunakan master Drupal saya itu) cukup besar, antara 5 sampai belasan megabyte (tergantung kelengkapan modul yang dibutuhkan), itu belum termasuk file-file tambahan, misalnya gambar desain tampilan atau dokumen yang dibutuhkan oleh sebuah situs secara spesifik. Ruang harddisk sebesar itu tentunya tidak begitu berarti ketika kita berbicara tentang laptop atau pc kita sendiri. Saya merasa perlu menghemat ruang harddisk karena saya selalu menampilkan situs yang sedang saya kerjakan di subdomain situs saya. Dengan ruang harddisk yang tidak seleluasa laptop sendiri, ruang harddisk hosting jatah saya sudah tersita banyak ketika saya mengerjakan sekitar 3 situs secara simultan.

Saya sebelumnya sudah pernah mendengar tentang kemungkinan melakukan setting Drupal agar satu mesin Drupal dapat digunakan berbarengan oleh banyak situs yang berbeda-beda. Sekarang saatnya mencoba, pikir saya. Saya memulai dengan mencari artikel tentang ini di internet. Ternyata terdapat lumayan banyak (tidak ada yang berbahasa Indonesia, jadi mungkin artikel saya ini yang pertama :) ), tinggal dicoba-coba mana yang berhasil untuk saya. Berikut ini adalah yang berhasil untuk saya.

Misalnya kita merencanakan akan menggunakan mesin Drupal untuk 3 situs: localhost/situs_a, localhost/situs_b, dan localhost/situs_c (untuk awalnya kita coba setting lokal dulu). Dengan struktur folder Drupal yang ada (dengan asumsi folder drupal kita namai: drupalbase), silakan tambahkan beberapa folder berikut:

sites/situs_a
sites/situs_a/files
sites/situs_a/modules
sites/situs_a/themes
sites/situs_b
sites/situs_b/files
sites/situs_b/modules
sites/situs_b/themes
sites/situs_c
sites/situs_c/files
sites/situs_c/modules
sites/situs_c/themes

Kemudian salin file settings.php (yang biasanya terdapat di folder sites/default) ke dalam folder berikut:

sites/situs_a
sites/situs_b
sites/situs_c

Sesuaikan isi settings.php dengan kondisi tiap situs.
Terlihat di sini, kita menambahkan satu set folder baru untuk masing-masing situs. Di dalam tiap folder situs_x, terdapat 3 subfolder lagi: files, modules, dan themes.

Folder files pada akan menggantikan fungsi folder files yang terdapat di root, jadi file-file milik situs_a nantinya akan disimpan di folder situs_a/files, dan bukan di folder files yang di root seperti biasanya. Nanti kita juga harus mengubah setting tentang folder files yang digunakan, di dalam Drupal.

Folder modules akan memperluas fungsi folder modules (yang berisi modul-modul default bawaan Drupal) dan folder sites/all/modules (yang biasanya digunakan untuk meletakkan modul-modul tambahan yang kita install sendiri). Harap diperhatikan: memperluas, dan bukan menggantikan; artinya semua modul yang terdapat di folder modules dan di sites/all/modules tetap dikenali dan berfungsi sebagaimana semula. Folder sites/situs_x/modules dapat kita gunakan untuk menampung modul-modul yang hanya diperlukan situs_x secara spesifik, dan tidak dibutuhkan situs lainnya.

Folder themes pada masing-masing folder situs_x akan menggantikan fungsi folder themes yang terletak di root.

Mengenai database, harap siapkan 3 database untuk ketiga situs tersebut, dengan isi database sama dengan database hasil instalasi awal.

Nah, sekarang kita akan mengedit isi file: c:\windows\system32\drivers\etc\hosts (backup dulu sebelumnya - untuk Linux, rasanya ada juga file yang setara dengan ini, tapi saya tidak ingat persis nama dan letaknya). Secara default, biasanya file tersebut sudah berisi:

127.0.0.1       localhost

Kita akan menambahnya dengan baris-baris berikut:

127.0.0.1       situs_a
127.0.0.1       situs_b
127.0.0.1       situs_c

Jika semua setting sudah benar kita lakukan, maka kita dapat melakukan akses ke masing-masing situs dengan menggunakan URL sebagai berikut:

situs_a/drupalbase
situs_b/drupalbase
situs_c/drupalbase

Lalu, bagaimana melakukan setting agar komputer lain yang terhubung dengan pc kita dapat pula mengakses situs-situs tersebut?
1/ Gunakan IP statis untuk komputer Anda.
2/ Edit file hosts yang terletak pada komputer lain yang ingin mengakses situs-situs kita, tambahkan entri seperti di atas tadi, hanya untuk IPnya harap disesuaikan dengan IP statis yang kita gunakan.

Bagaimana pula dengan setting di hosting situs online kita?
Sebagai ganti dari mengedit file hosts, lakukan setting subdomain - misalnya: situs_a.kunang.com, situs_b.kunang.com, situs_c.kunang.com - dan arahkan ke folder htdocs default kita di sana, plus folder drupalnya - misalnya: www/drupalbase (untuk ketiga situs).

Karena ini artikel tutorial saya yang pertama, adalah wajar jika setelah membacanya ada kebingungan di sana sini :)
Untuk itu, saya membuka diri jika ada yang ingin bertanya.

Heran

Sudah beberapa waktu lamanya, saya memasang iklan lowongan web programmer dan web designer di website usaha mungil saya. Selama beberapa waktu tersebut, sudah saya terima pula beberapa lamaran yang berusaha menjawab kebutuhan saya akan pekerja itu. Beberapa lamaran saya nilai baik, dengan ada 2 orang yang saat ini sedang saya uji dengan masing-masing 1 pekerjaan kecil, dengan nilai pembayaran yang sudah disepakati.

Namun yang ingin saya bahas di sini bukan itu. Di antara beberapa email yang masuk, yang berkaitan dengan iklan lowongan tersebut, ada beberapa email yang isinya ringkas dan padat: “Kalo saya kerja di tempat Bapak, gajinya berapa?”, tanpa embel-embel CV, dan… nama. Jadi, siapa yang mengirimkan email itupun saya tidak tahu namanya, saya hanya tahu alamat emailnya.

Yang saya herankan adalah, apa yang ada di benak mereka, sehingga ketika mereka mengirimkan email tersebut, terpikir untuk memperkenalkan diri dengan sopan pun tidak. Lagipula, menurut saya, gaji bukanlah suatu informasi yang mudah diumbar begitu saja, karena sifatnya yang cenderung personal dan fleksibel besarnya. Biasanya, gaji yang saya tawarkan saya sesuaikan dengan tingkat kemampuan orang tersebut, meskipun belakangan ini saya coba membuat suatu standar gaji untuk rekan-rekan kerja saya. Saya juga yakin, bahwa gaji yang saya tawarkan tersebut sangat layak, tidak kalah dengan usaha sejenis lain yang lebih besar.

Selain itu, bagi saya, bekerja adalah suatu hubungan yang timbal-balik. Tiap-tiap pihak memberi sekaligus juga menerima. Bukan semata satu pihak memberi, yang lainnya cuma menerima. Saya menduga, pengirim email tersebut belum menyadari bahwa menawarkan jasa yang dapat mereka berikan adalah salah satu bagian dari proses penentuan gaji. Saya juga menduga, mereka belum memahami bahwa memperkenalkan diri adalah salah satu bagian dari awal hubungan jangka panjang yang baik.

Kesan orang-orang tentang seorang programmer yang wirausahawan

Sudah kurang lebih lima tahun saya menjalani profesi yang disebut di atas itu: programmer yang wirausahawan. Mungkin penjelasan Kang Wiki: Micro Independent Software Vendor (mISV) dan Freelancer cukup memberi penjelasan tentang profesi saya ini.

Selama kira-kira lima tahun itu ada banyak kesan dari orang lain yang saya terima mengenai profesi saya ini. Ada yang merasa tertarik untuk mengamati perkembangan pekerjaan saya. Ada yang pesimis akan kemungkinan keberhasilan saya menjalani profesi ini. Dan banyak yang lain.

Tanggapan yang cukup sering saya terima adalah, ada orang-orang yang memandang saya dengan sikap aneh (atau kasihan, saya tidak tahu - hehehe), yang kemudian secara rutin (terlebih pada awalnya dulu) menawari saya pekerjaan atau peluang usaha. Mungkin mereka memandang profesi ini ‘tidak ada masa depannya’ kali ya. Saya yakin tidak ada maksud jelek apapun dari mereka, namun saya merasa kurang nyaman dengan pandangan seperti ini.

Ada juga yang seringkali menanyai saya, apakah ada proyek yang sedang saya kerjakan, jika ada, banyakkah proyek yang dikerjakan, sambil tak lupa melontarkan doa dan harapan semoga job saya banyak dan lancar. Yang ini terutama orang tua saya (dan belakangan setelah saya menikah, mertua saya juga). Sebentuk kasih dan perhatian dari mereka buat saya, salam hormat saya untuk mereka.

Selain tanggapan-tanggapan di atas itu, ada lagi tanggapan yang lain. Ada juga yang melihat bahwa profesi yang saya pilih ini menarik, dan mereka terus menyemangati saya. Mereka sering berkata bahwa memang awalnya akan susah, tapi jika saya konsisten, maka buah yang baik akan saya petik kemudian. Cerita pengalaman hidup mereka sering saya jadikan inspirasi dan penyemangat ketika saya berada dalam situasi yang tidak mudah dihadapi. Saya sangat menghargai mereka.

Sementara itu, tanggapan dari teman-teman saya yang segenerasi dengan saya, rata-rata adalah, bahwa profesi saya ini sangat enak dijalani (kalo emang iya, kenapa gak pada ikutan ya?). Waktunya longgar, bisa diatur sendiri. Mau kerja ya tinggal kerja di rumah. Mau santai ya tiduran aja di rumah. Proyeknya nilainya gede-gede (ah ngarang tuh, yang bener gede-kecil, hehehe).

Nah berkaitan dengan kesan santai itu, kadang saya juga jadi repot karenanya. Asumsi orang-orang, saya tidak memiliki jam kerja tetap, jadi waktunya bebas, saya bisa melakukan apa saja setiap saat saya mau. Kadang-kadang, ada ajakan atau permintaan pada saya untuk mengikuti atau mengerjakan sesuatu (biasanya minta bantuan). Misalnya gini, ada orang (entah saudara ataupun teman) yang minta tolong saya untuk mencarikan atau membelikan suatu barang di Yogya. Nah, setelah beberapa hari mereka bertanya lagi, udah dapet belum barangnya, kok belum dikirim. Masalahnya, biasanya saya menjadwalkan hal-hal seperti ini di akhir minggu (Sabtu - Minggu). Kalau belum sampai harinya, ya seringkali saya belum bisa melakukannya. Tidak jarang, setelah ada penjelasan seperti ini, mereka bisa mengerti. Yang menjengkelkan, kadang setelah diberi penjelasanpun, mereka menanggapi, “Katanya kerja sendiri (sebuah bentuk terjemahan bebas atas: freelancer), masak belum bisa disempatkan untuk bantu mencarikan?” Repot juga ya?

Setiap orang boleh memiliki kesannya sendiri tentang profesi saya, dan apapun kesan mereka itu, semuanya menarik buat saya. Kapan-kapan saya pengin juga bercerita tentang kesan saya sendiri tentang profesi yang saya jalani ini.