<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Albert punya blog!</title>
	<atom:link href="http://albert.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://albert.dagdigdug.com</link>
	<description>Saya dan dunia di sekitar saya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 Apr 2011 05:25:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Pindahan..</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/27/pindahan/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/27/pindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 01:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/08/27/pindahan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya berencana untuk vakum dari blog ini (entah untuk sementara atau permanen). Untuk selanjutnya, saya akan aktif di apprayo.wordpress.com.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berencana untuk vakum dari blog ini (entah untuk sementara atau permanen). Untuk selanjutnya, saya akan aktif di <a href="http://apprayo.wordpress.com">apprayo.wordpress.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/27/pindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, negeri yang dibangun oleh rakyat kecil</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/17/indonesia-negeri-yang-dibangun-oleh-rakyat-kecil/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/17/indonesia-negeri-yang-dibangun-oleh-rakyat-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 00:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/08/17/indonesia-negeri-yang-dibangun-oleh-rakyat-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[Anda mengenal nama Pawirosetomo? Jika belum, tidak ada salahnya kita mengenal nama itu sekarang. Tanpa keberanian seorang Pawirosetomo, mungkin negara Indonesia tidak akan berhasil melalui masa kritis di awal kemerdekaannya. Peralatan siaran radio AURI yang digunakan untuk menyiarkan tentang Serangan &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/08/17/indonesia-negeri-yang-dibangun-oleh-rakyat-kecil/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mbl notesBlogText clearfix">
<div>
<p>Anda mengenal nama  Pawirosetomo? Jika belum, tidak ada salahnya kita mengenal nama itu  sekarang. Tanpa keberanian seorang Pawirosetomo, mungkin negara  Indonesia tidak akan berhasil melalui masa kritis di awal  kemerdekaannya. Peralatan siaran radio AURI yang digunakan untuk  menyiarkan tentang Serangan Umum 1 Maret 1949, disembunyikan di dapur  rumah petani Pawirosetomo. Siaran radio dari dapur itulah yang ditangkap  All India Radio, dan kemudian diteruskan ke seluruh dunia, hingga  akhirnya PBB tahu negara Indonesia masih ada.</p>
<p>Ayah teman  saya, saat itu seorang pemuda desa, anggota Tentara Pelajar, dipercaya  Pak Nasution untuk menjadi ajudannya saat masa revolusi dulu. Beliau  memandu Pak Nas berpindah2 tempat menginap setiap malam, untuk  menghindari sergapan Belanda. Beberapa usaha sergapan Belanda gagal,  tidak saja berkat panduan ayah teman saya itu, tapi juga kekompakan  warga desa setempat untuk menutupi keberadaan Pak Nas. Dari desa itu,  Pak Nas dapat ikut mengoordinasi serangan2 terhadap Belanda.</p>
<p>Saya  yakin ada banyak orang seperti Pariwosetomo dan ayah teman saya pada  masa itu. Dalam masa revolusi dulu, negeri ini ditimang, dilindungi, dan  diselamatkan oleh rakyat kecil, yang nama2nyapun kita tidak pernah tahu  dan dengar. Rakyat kecil, yang sudah cukup bahagia tahu bahwa negerinya  menjadi merdeka, yang terbersit untuk mendapat sederet bintang jasa  dalam mimpipun tidak.</p>
<p>Sekarang, saat kata merdeka saja  sering harus dicerna ulang untuk dapat kita serap artinya, apakah yang  mereka lakukan dulu itu menjadi pudar maknanya?</p>
<p>Mungkin  sekarang, kitalah rakyat kecil itu. Tugas menimang, melindungi, dan  menyelamatkan negeri ini jatuh ke tangan kita. Tidak peduli apakah kita  seorang petani, seperti Pawirosetomo, atau seorang pelajar, seperti ayah  teman saya itu, tugas kita tetap sama.</p>
<p>Mari berangkat  menyelesaikan tugas.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/17/indonesia-negeri-yang-dibangun-oleh-rakyat-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/08/berikanlah-kami-pada-hari-ini-makanan-kami-yang-secukupnya/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/08/berikanlah-kami-pada-hari-ini-makanan-kami-yang-secukupnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 02:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bapa kami]]></category>
		<category><![CDATA[cukup]]></category>
		<category><![CDATA[our daily bread]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/08/08/berikanlah-kami-pada-hari-ini-makanan-kami-yang-secukupnya/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Anda pahami dengan kata cukup? Apa arti kata cukup buat Anda? Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan saat harus memaknai kata cukup. Petikan teks doa Bapa Kami yang sederhana di atas, seakan tidak lagi sesuai dengan zaman yang &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/08/08/berikanlah-kami-pada-hari-ini-makanan-kami-yang-secukupnya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang Anda pahami dengan kata cukup? Apa arti kata cukup buat Anda? Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan saat harus memaknai kata cukup. Petikan teks doa Bapa Kami yang sederhana di atas, seakan tidak lagi sesuai dengan zaman yang melaju makin cepat ini.</p>
<p>Makanan adalah kebutuhan harian manusia. Tiap hari, setiap orang, butuh makanan. Dan dengan makanan itu, manusia dapat melanjutkan hidupnya. Sederhana. Dengan bekerja, orang dapat membeli makanan untuk melanjutkan hidupnya. Sederhana? Sepertinya tidak sesederhana itu. Hidup di zaman sekarang tidak lagi cukup dijalani dengan cukup makan setiap hari. Kita harus bisa membaca dan menulis (dan oleh karena itu kita harus bersekolah). Kita juga harus sehat (muncul biaya kesehatan). Kita harus punya tempat tinggal (timbul biaya sewa atau biaya beli rumah). Tidak jarang tempat kita bekerja jauh dari rumah (timbul biaya transportasi). Dan seterusnya, dan seterusnya..</p>
<p>Seorang teman saya, tiap hari berdoa, &#8220;Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya&#8221;. Dari usaha dagang yang dijalankannya, ia menargetkan sejumlah angka pendapatan tertentu yang ia pandang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (entah bagaimana ia menghitungnya). Jika pada hari itu ia telah mencapai angka yang ditargetkannya itu, tidak jarang ia menyarankan orang yang datang ke tokonya untuk kembali datang esok hari. Seandainya orang itu lebih memilih mencari toko lain, iapun tak berkeberatan. Aneh? Lucu? Bodoh? Suatu kali kisah ini menjadi bahan diskusi antara saya dan seorang teman yang lain. Sudut pandang teman yang ini menarik bagi saya. Ia berkata, &#8220;Justru mungkin karena ia paham betapa penghasilannya setiap hari sudah cukup terpenuhi sehingga berani melakukan hal yang semacam itu, Tuhan jadi sayang padanya, dan terus menolong dan memelihara kehidupan keluarganya tiap hari.&#8221;</p>
<p>Tiap hari kita bekerja keras, bahkan tidak jarang bekerja dengan amat sangat keras. Tapi kita lupa memikirkan apa makna cukup bagi kita.</p>
<p>Pekerjaan ayah teman saya membuatnya sering pergi berkeliling ke pelosok Indonesia. Di banyak masyarakat Papua, konsep menabung belum dipahami. Bagi mereka yang tinggal di tepi laut misalnya, tiap pagi mereka pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Ya, menyerok di tepi laut, dan bukan pergi menjala ikan ke tengah laut. Besoknya, mereka kembali pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Mereka menerima makanan hari itu, yang secukupnya. Menjadi masalah ketika orang2 dari peradaban yang lebih maju datang, dan mencoba memberi berbagai bantuan dalam berbagai rupa: pendidikan, bantuan dana, pengajaran keterampilan, dll. Dana yang diterima, langsung dibelanjakan sampai habis pada hari itu juga. Tidak ada konsep menabung dalam benak mereka. Bersekolah? Mengapa saya harus bersekolah, sedangkan kebutuhan harian saya sudah terpenuhi dengan pergi ke tepi laut? Itu mungkin pertanyaan mereka. Cerita ini sungguh menantang saya untuk memikirkan ulang makna cukup buat saya.</p>
<p>Kita hidup di zaman ketika berbagai kebutuhan muncul dalam pandangan kita. Ada kebutuhan yang sifatnya segera (anak sakit, harus segera dibawa ke dokter), ada kebutuhan yang sifatnya jangka panjang (sekolah, menabung untuk membeli rumah), ada juga kebutuhan yang sifatnya rutin. Banyak dari kebutuhan itu tak terhindarkan, dan harus dipenuhi. Tapi pertanyaannya masih sama, berapa banyak yang cukup bagi kita?</p>
<p>&#8220;Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/08/berikanlah-kami-pada-hari-ini-makanan-kami-yang-secukupnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insentif</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/04/insentif/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/04/insentif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 08:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[insentif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/08/04/insentif/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hal yang dilakukan semua orang, selalu didorong oleh iming2 insentif, entah insentif itu berwujud ataupun tidak, entah besar atau kecil, entah di mata orang lain itu merupakan insentif atau bukan. Orang bekerja, karena ada insentif uang. Cuma uang? Bisa &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/08/04/insentif/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap hal yang dilakukan semua orang, selalu didorong oleh iming2 insentif, entah insentif itu berwujud ataupun tidak, entah besar atau kecil, entah di mata orang lain itu merupakan insentif atau bukan. Orang bekerja, karena ada insentif uang. Cuma uang? Bisa jadi tidak hanya karena uang. Tapi juga karena status sosial yang diperoleh dari pekerjaan itu. Atau karena ada insentif lain lagi. Orang menaati peraturan, karena ada insentif berupa terhindar dari sanksi. Orang melanggar peraturan? Ya bisa jadi karena insentif yang berupa terhindarnya dia dari sanksi dianggapnya tidak lagi memadai sebagai insentif yang layak diterima dari usahanya menaati peraturan.</p>
<p>Kira2 seperti itulah kerja insentif.</p>
<p>Tantangan bagi regulator, dalam level apapun &#8211; entah Ketua RT, Pak/Ibu Lurah, seorang ayah, dll, adalah menentukan bentuk dan letak insentif secara tepat. Aturan dari si ayah agar anak belajar tiap malam bisa saja tidak ditaati oleh si anak, karena insentif berupa &#8216;tidak dimarahi jika tidak belajar&#8217; dianggap tidak cukup layak olehnya. Kenikmatan (?) tidak belajar lebih besar ketimbang &#8216;kesengsaraan&#8217; dimarahi si ayah karena tidak belajar. Aturan agar kendaraan pribadi tidak masuk jalur busway, bisa saja dilanggar ketika jalur umum begitu macetnya, sehingga si pengendara lebih memilih mengambil resiko dengan masuk jalur busway. Banyak orang memilih beralih menggunakan LPG ketika menyadari bahwa minyak tanah makin sulit diperoleh, dan harganya makin mahal. Sekarang, orang kembali harus berpikir, ketika menyimak berita2 kompor gas yang meledak (terlepas dari faktor apapun penyebab ledakan itu), layakkah insentif murahnya dan mudahnya diperoleh LPG itu bila dibandingkan dengan resiko yang mereka lihat di berbagai media.</p>
<p>Insentif yang tidak ditawarkan dan diletakkan secara tepat, bisa mengakibatkan kacaunya tatanan dan perencanaan.</p>
<p>Contohnya? Baiklah. Ketika orang melihat peluang kerja dan peluang mendapat penghasilan yang layak di Jakarta amat besar, dianggap jauh lebih besar ketimbang di daerah2 lain, orangpun berbondong2 pergi ke Jakarta. Mungkin insentif itu tidak dengan sengaja dirancang dan dibuat, tapi itulah yang orang lihat.</p>
<p>Contoh lain? Baiklah. Banyak jabatan ditentukan bermasa kerja 5 tahun. Menurut saya, sistem 5 tahunan ini memberi insentif pada mereka yang menjabat untuk berjuang secara 5 tahunan, dengan klimaks perjuangan terletak pada awal dan akhir masa jabatan. Pada awal masa jabatan, karena janji mereka pada awal masa jabatan secara gencar ditagih orang2 yang mendudukkan mereka pada kursi jabatan tersebut. Pada akhir masa kerja, karena sebentar kemudian akan datang masa pemilihan atau penentuan, di mana terjadi penentuan diperpanjang atau tidaknya masa kerja mereka. Bila kita berharap, banyak kegiatan dirancang secara jangka panjang misalnya, saya khawatir kita telah menyusun sistem insentif yang salah untuk harapan itu. Sistem insentif yang ada mendorong orang, siapapun yang duduk pada jabatan itu, untuk bekerja secara 5 tahunan. Apakah semua pejabat demikian? Mungkin tidak. Ada yang bekerja secara hebat dan tekun sepanjang masa jabatannya. Bisa jadi karena ia meyakini adanya insentif non material, di luar soal gaji dan status.</p>
<p>Mmm&#8230; dan saya diharapkan memberi usulan atau saran, di ujung tulisan ini? Maaf, belum ada insentif yang layak bagi saya untuk melakukan itu <img src='http://albert.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*Ide catatan ini muncul setelah berhasil menyelesaikan membaca sebuah <a href="http://timharford.com/undercovereconomist/">buku ekonomi populer</a>, hampir setahun setelah dibeli <img src='http://albert.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/04/insentif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Take My Hand, Precious Lord</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/01/take-my-hand-precious-lord/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/01/take-my-hand-precious-lord/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 17:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gospel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/08/01/take-my-hand-precious-lord/</guid>
		<description><![CDATA[Precious Lord, take my hand Lead me on, let me stand I am tired, I am weak, I am worn Through the storm, through the night Lead me on to the light Take my hand precious Lord, lead me home &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/08/01/take-my-hand-precious-lord/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Precious Lord, take my hand<br />
Lead me on, let me stand<br />
I am tired, I am weak, I am worn<br />
Through the storm, through the night<br />
Lead me on to the light<br />
Take my hand precious Lord, lead me home</p>
<p>When my way grows drear<br />
Precious Lord linger near<br />
When my life is almost gone<br />
Hear my cry, hear my call<br />
Hold my hand lest I fall<br />
Take my hand precious Lord, lead me home</p>
<p>When the darkness appears<br />
And the night draws near<br />
And the day is past and gone<br />
At the river I stand<br />
Guide my feet, hold my hand<br />
Take my hand precious Lord, lead me home</p>
<p>Precious Lord, take my hand<br />
Lead me on, let me stand<br />
I&#8217;m tired, I&#8217;m weak, I&#8217;m lone<br />
Through the storm, through the night<br />
Lead me on to the light<br />
Take my hand precious Lord, lead me home</p>
<p>Lyrics by Thomas A. Dorsey<br />
Song by George Nelson Allen</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/08/01/take-my-hand-precious-lord/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs jaringan sosial mengubah cara kita berteman?</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/17/situs-jaringan-sosial-mengubah-cara-kita-berteman/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/17/situs-jaringan-sosial-mengubah-cara-kita-berteman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 11:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[situs jaringan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/07/17/situs-jaringan-sosial-mengubah-cara-kita-berteman/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya membaca slideshow The Real Life Social Network v2. Sebenarnya artikel itu ditulis untuk para pengembang situs jaringan sosial, tapi saya merasa pengguna situs jaringan sosialpun akan mendapat manfaat dari membaca artikel ini. Bila Anda punya &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/07/17/situs-jaringan-sosial-mengubah-cara-kita-berteman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saya membaca slideshow <a href="http://www.slideshare.net/padday/the-real-life-social-network-v2">The Real Life Social Network v2</a>. Sebenarnya artikel itu ditulis untuk para pengembang situs jaringan sosial, tapi saya merasa pengguna situs jaringan sosialpun akan mendapat manfaat dari membaca artikel ini. Bila Anda punya waktu, bacalah artikel tersebut. Tapi bila tidak, Anda bisa membaca artikel saya ini, yang sedikit banyak merupakan ringkasan dari artikel tersebut <img src='http://albert.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Selamat menikmati.</p>
<p>==========================================</p>
<p>Siapa di antara Anda yang tidak memiliki akun Facebook? Saya tidak akan heran bila banyak dari Anda yang memilikinya. Hampir setiap orang yang saya kenal memilikinya. Mereka yang akrab dengan internet biasanya memilikinya.</p>
<p>Teman2 kita di Facebook biasanya adalah teman2 kita di dunia nyata, walau kadang tidak juga demikian. Para selebritis biasanya punya banyak teman yang tidak dikenalnya secara pribadi. Tiap orang biasanya punya teman dari berbagai macam pergaulan hidupnya di dunia nyata. Ada sanak saudara, ada teman sekolah atau kuliah, ada teman kerja (bisa ada lebih dari satu kelompok teman, bila kita bekerja pada lebih dari satu tempat), ada teman relasi sosial (teman arisan, teman perkumpulan keagamaan, teman satu kelompok hobi, dll), mungkin ada kelompok teman lain lagi.</p>
<p>Meski belakangan ditambahkan fitur kelompok teman, tapi umumnya orang sudah terlanjur meletakkan semua temannya, yang berasal dari berbagai latar belakang pertemanan itu, pada satu kelompok besar. Selain itu, pengelompokan teman sifatnya juga tidak diwajibkan. Karena cenderung merepotkan, orangpun akhirnya mengabaikan pengelompokan itu, dan membiarkan semua temannya ada dalam satu kelompok besar.</p>
<p>Dalam dunia nyata, manusia cenderung berperilaku sesuai dengan kelompok di mana ia sedang berada. Tiap kelompok memiliki ciri komunikasi tersendiri, memiliki topik pembicaraan tersendiri, dan memiliki tata aturan sendiri.</p>
<p>Sebut saja ada seorang bernama Andi. Andi adalah seorang mahasiswa fakultas ekonomi. Dalam lingkungan teman2nya di kampus, mungkin Andi lebih banyak berbincang seputar topik kuliah atau kegiatan kampus. Ia menggunakan bahasa Indonesia di sana. Namun, selain sebagai seorang mahasiswa, Andi juga aktif dalam sebuah klub sepakbola. Saat berada bersama teman2 klubnya, mungkin ia banyak berbicara seputar topik pemain2 tenar sepakbola, atau hasil2 pertandingan klub sepakbola idola. Tutur bahasa yang digunakan cenderung lebih santai, tidak seformal saat Andi berada di kampus. Andi kebetulan juga memiliki banyak sanak saudara di desa. Di desa sana, walau pengaruh modernisasi telah mulai masuk, sanak saudara Andi masih hidup lekat dengan budaya Jawa. Saat bersama sanak saudaranya, Andi menggunakan bahasa Jawa, dan banyak berbincang seputar apa dan bagaimana sanak saudara yang masih ada.</p>
<p>Jika suatu saat Andi dan semua kenalannya masuk ke Facebook, maka semua akan berada pada posisi yang sama, yaitu teman Andi. Mereka semua, teman kampus, teman klub sepakbola, dan sanak saudara Andi, akan melihat semua kegiatan Andi di situ. Misalnya Andi menulis status &#8220;jadi main bola nggak nih?&#8221;, maka semua teman Facebook Andi akan membacanya, meski mungkin hanya teman main sepakbola Andi yang memahaminya dan mungkin menanggapinya. Jika suatu kali ada seorang teman Andi yang iseng men-tag Andi pada sebuah foto konyol, tidak semua teman Facebook Andi akan menanggapinya secara positif. Bayangkan bila kasus ini terjadi pada seseorang yang bekerja, dan kebetulan atasannya atau relasi usahanya juga menjadi teman Facebook dari orang tersebut.</p>
<p>Andi mewakili kebanyakan pengguna situs jaringan sosial, tidak hanya Facebook. Kebanyakan pengguna situs jaringan sosial meletakkan semua teman mereka, dari berbagai latar belakang pertemanan, dalam satu kelompok yang sama, yang mampu melihat hal yang sama persis dari akun kita. Situs jaringan sosial juga tidak begitu mendukung pemisahan kelompok teman ini. Fitur disediakan, tapi diletakkan di dalam, dan bukan sesuatu yang wajib untuk digunakan. Makin tinggi peluang untuk terjadi kesalahpahaman dan kesalahcitraan terhadap seseorang.</p>
<p>Situasi itu masih ditambah pula dengan mudahnya bagi seseorang untuk berteman dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan. Beberapa kali saya diajak berteman dengan orang (atau lebih tepatnya: akun) yang sama sekali tidak saya kenal. Tidak ada salam perkenalan apapun darinya. Bahkan di situs jaringan sosial yang ditujukan untuk membangun relasi profesional seperti LinkedIn juga terjadi yang demikian. Beberapa kali saya menerima ajakan berteman dari seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, belum pernah bertemu atau bercakap, baik di dunia nyata ataupun di dunia nyata.</p>
<p>Lalu bagaimana?</p>
<p>Yang penting bagi kita sebagai pengguna situs jaringan sosial adalah, menyadari bahwa situasi pertemanan di dunia maya berbeda dengan situasi pertemanan di dunia nyata. Di dunia nyata, terdapat &#8220;sekat2&#8243; yang memisahkan lingkungan pertemanan yang satu dengan yang lain. Di dunia maya, &#8220;sekat&#8221; itu bisa dibilang nyaris tidak ada. Kondisi semacam ini membutuhkan kebijaksanaan dan kehati2an kita sebagai pengguna untuk menempatkan diri secara tepat di lingkungan pertemanan dunia maya.</p>
<p>Jalan lain yang bisa kita tempuh adalah, menggunakan fitur yang telah disediakan untuk membuat &#8220;sekat&#8221; itu dengan sebaik2nya. Butuh waktu dan tenaga untuk menyusunnya, tapi mungkin hasilnya akan sepadan. Mungkin.</p>
<p>Kita juga perlu bijaksana dalam menerima ajakan pertemanan dari orang lain. Apakah orang itu sungguh seseorang yang pernah kita kenal? Informasi yang kita sediakan di profil maya kita juga akan tersedia bagi orang tersebut nantinya, bila kita memasukkannya dalam daftar teman kita.</p>
<p>Saya pribadi sedang menilik ulang langkah saya di dunia pertemanan maya ini, mencoba mencari langkah yang tepat untuk saya.</p>
<p>Bagaimana dengan Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/17/situs-jaringan-sosial-mengubah-cara-kita-berteman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cincin kawin</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/07/cincin-kawin/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/07/cincin-kawin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 23:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[wedding anniversary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/07/07/cincin-kawin/</guid>
		<description><![CDATA[Buat istriku, selamat hari ulang tahun pernikahan.. <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/07/07/cincin-kawin/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira2 tiga setengah tahun yang lalu, saya dan istri saya (waktu itu calon istri) sering meluangkan waktu untuk window shopping ke toko2 perhiasan. Kami ingin mencari sepasang cincin kawin yang bagus menurut selera kami, dan sesuai untuk ukuran kantong saya. Entah atas alasan apa, kami bersepakat untuk lebih memilih cincin dengan bahan emas putih ketimbang cincin dari emas kuning.</p>
<p>Di luar soal harga, yang sudah jelas batasannya: ukuran kantong pembeli, soal bentuk cincin memang tidak ada kriterianya, semua tergantung selera si pembeli, yang bisa berbeda2 antara satu orang dengan orang lainnya. Setelah sekian banyak cincin kami lihat dan timang, kami berdua tertarik pada sepasang bentuk cincin, yang akhirnya kami beli dan pakai.</p>
<div id="attachment_113" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-113" src="http://albert.dagdigdug.com/files/2010/07/copy-of-img_34281.jpg" alt="Cincin kawin kami" width="400" height="196" /><p class="wp-caption-text">Cincin kawin kami</p></div>
<p>Mengapa cincin dijadikan salah satu simbol ikatan pernikahan? Orang sering bilang bahwa bentuk lingkaran adalah bentuk yang sempurna, tidak terputus. Dan di dalamnya ada doa dan harapan, agar pernikahan antara dua orang yang memakainya juga tidak terputuskan.</p>
<p>Lalu apa yang istimewa dari cincin kawin kami? Masing2 dari cincin kami terdiri dari dua bagian, yang bisa dipasangkan begitu rupa sehingga membentuk cincin yang utuh. Bagian2 itu berbeda bentuknya tapi saling melengkapi, sehingga pas ketika digabungkan. Kami memandang bahwa lelaki dan perempuan yang terikat dalam satu pernikahan tetaplah dua pribadi yang berbeda. Memang mereka disatukan dalam ikatan pernikahan, tapi mereka tetaplah pribadi yang unik. Kami berharap cincin kami itu selalu mengingatkan kami, bahwa kami memang berbeda, dan akan terus berbeda, tapi juga akan terus berusaha menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan saling mengisi.</p>
<p>Tepat tiga tahun yang lalu, kami mulai mengenakan cincin itu. Semenjak itu pula kami telah berbagi hidup, melalui dan mengatasi berbagai tantangan. Perjalanan kami masih panjang. Dengan penyertaan dan bimbingan Tuhan, kami akan terus berupaya untuk semakin kompak dan saling mengisi.</p>
<p>Buat istriku, selamat hari ulang tahun pernikahan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/07/cincin-kawin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cake bake di Windows</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/03/cake-bake-di-windows/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/03/cake-bake-di-windows/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 02:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[bake]]></category>
		<category><![CDATA[cake]]></category>
		<category><![CDATA[cakephp]]></category>
		<category><![CDATA[windows]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/07/03/cake-bake-di-windows/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan bake CakePHP untuk pertama kali sering membingungkan, terutama bagi pengguna Windows. Padahal masalahnya sederhana saja: letak eksekusi perintah bake. Kita ambil saja contoh yang ada di manualnya. Di situ dikatakan: &#8220;Once we have the table structure in the database &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/07/03/cake-bake-di-windows/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menggunakan bake CakePHP untuk pertama kali sering membingungkan, terutama bagi pengguna Windows. Padahal masalahnya sederhana saja: letak eksekusi perintah bake. Kita ambil saja contoh yang ada di <a href="http://book.cakephp.org/view/1544/Preparing-our-Application">manual</a>nya. Di situ dikatakan:</p>
<blockquote><p>&#8220;Once we have the table structure in the database we can start cooking. Use <a href="http://book.cakephp.org/view/1522/Code-Generation-with-Bake">cake bake</a> to quickly create your models, controllers, and views.&#8221;</p></blockquote>
<p>Manual hanya menyebutkan agar kita menjalankan &#8220;cake bake&#8221; untuk dengan mudah menyiapkan model, controller, dan view (dari obyek2 yang tergambar pada tabel yang sudah dibuat).</p>
<p>Katakanlah, aplikasi kita ada di &#8220;D:\Localhost\simpleacl&#8221;, di dalamnya ada subfolder app, cake, dan vendors. File cake.bat terletak di folder &#8220;D:\Localhost\simpleacl\cake\console&#8221;. Biasanya, orang akan pindah ke folder tersebut dan menjalankan cake.bat dari situ. Ini pangkal kebingungan. Kita akan ditanya path aplikasi kita.</p>
<div id="attachment_108" class="wp-caption aligncenter" style="width: 544px"><img class="size-full wp-image-108 " src="http://albert.dagdigdug.com/files/2010/07/cake1.jpg" alt="cake bake dari folder cake\console" width="534" height="130" /><p class="wp-caption-text">cake bake dari folder cake\console</p></div>
<p>Jika kita mau menyiapkan model, controller, dan view, lebih mudah jika kita menjalankan cake bake dari root folder aplikasi kita, dalam contoh ini berarti &#8220;D:\Localhost\simpleacl&#8221;.</p>
<div id="attachment_109" class="wp-caption aligncenter" style="width: 544px"><img class="size-full wp-image-109 " src="http://albert.dagdigdug.com/files/2010/07/cake2.jpg" alt="cake bake dari root folder aplikasi" width="534" height="198" /><p class="wp-caption-text">cake bake dari root folder aplikasi</p></div>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/07/03/cake-bake-di-windows/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengantar Mas Didieb melihat implementasi Simpus</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/26/mengantar-mas-didieb-melihat-implementasi-simpus/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/26/mengantar-mas-didieb-melihat-implementasi-simpus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 03:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simpus]]></category>
		<category><![CDATA[didieb ajibaskoro]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/06/26/mengantar-mas-didieb-melihat-implementasi-simpus/</guid>
		<description><![CDATA[Dari pagi hingga siang kemarin, saya pergi ke Puskesmas Salam, kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang, dan Puskesmas Magelang Selatan bersama Mas Jojok, Uun, Mas Didieb Ajibaskoro, dan Ruth. Ini semua berawal dari perkenalan yang berlanjut dengan komunikasi via email beberapa &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/06/26/mengantar-mas-didieb-melihat-implementasi-simpus/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pagi hingga siang kemarin, saya pergi ke Puskesmas Salam, kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang, dan Puskesmas Magelang Selatan bersama <a href="http://ceritasimpus.wordpress.com">Mas Jojok</a>, Uun, <a href="http://www.ajibaskoro.com">Mas Didieb Ajibaskoro</a>, dan Ruth.</p>
<p>Ini semua berawal dari perkenalan yang berlanjut dengan komunikasi via email beberapa bulan yang lalu dengan Mas Didieb. Beliau kebetulan diundang untuk hadir dalam <a href="http://gc21.inwent.org/ibt/GC21/area=gc21/main/en/site/gc21/public/index.sxhtml">sebuah acara dengan subtopik mengenai software healthcare di Hanoi</a>. Sebagai bekal untuk hadir di sana, beliau ingin mendapatkan <a href="http://www.kunang.com/id/sistem-informasi-puskesmas-simpus">informasi mengenai Simpus</a>. Saya mewakili tim Simpus mengundangnya datang ke Yogya untuk kami antar melihat beberapa puskesmas pengguna Simpus di daerah dekat Yogya.</p>
<p>Perjalanan kami awali dengan menuju ke Puskesmas Salam. Kehadiran kami disambut meriah oleh beberapa staf puskesmas, yang sudah membawa beberapa masukan dan saran untuk perbaikan Simpus. Beberapa masalah kecil yang dapat ditangani langsung saya tangani di tempat, sementara perbaikan yang lebih berat saya bawa pulang untuk PR. Mas Didieb merasa tertarik dengan antusiasme staf puskesmas terhadap Simpus. Ini karena saat berangkat, Mas Didieb menyangka akan mendapati staf puskesmas yang duduk pasif di depan komputer, menanti instruksi dari tim Simpus untuk mencoba ini dan itu. Setelah masalah yang sudah teratasi disampaikan ke staf puskesmas, perjalanan kami lanjutkan ke kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang.</p>
<p>Tidak begitu banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, tapi Mas Didieb dan Ruth sempat mencoba membantu kami mengatasi masalah pada Simkes yang terinstall di sana. Belum berhasil, tapi ada hal yang mereka temukan yang mungkin dapat membantu saya mencari penyebab masalahnya. Sempat berbincang sejenak dengan Pak Dwi, perjalanan segera kami lanjutkan ke Puskesmas Magelang Selatan.</p>
<p>Di Puskesmas Magelang Selatan, saya melakukan update Simpus, sementara Mas Didieb dan Ruth berbincang dengan Pak Deddy. Mas Didieb bertanya pada Pak Deddy, seberapa jauh manfaat keberadaan Simpus untuk pasien yang berkunjung ke puskesmas. Pak Deddy menjelaskan, bahwa efek langsungnya susah dilihat. Ya tentu saja data yang akurat, alur data yang lebih cepat dari bagian ke bagian, menunjang baiknya pelayanan untuk pasien, tapi tidak terlihat langsung. Saya menambahkan bahwa jika sistem informasinya baik, efek langsungnya ke pasien tidak akan banyak terasa, tapi jika sistem informasinya buruk, efek (buruk) langsungnya ke pasien akan langsung terasa (pelayanan jadi jauh lebih lama, data sering salah, dll). Pak Deddy menjelaskan bahwa manfaat keberadaan Simpus lebih terasa bagi staf puskesmas yang tiap bulan harus menyusun laporan ke Dinas Kesehatan. Penyusunan laporan dapat dilakukan seketika, tidak lagi perlu banyak waktu. Hal baik lain bagi staf puskesmas adalah, proses input data selesai bersamaan dengan selesainya proses pelayanan pasien. Tidak ada lagi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan selepas usainya pelayanan pasien.</p>
<p>Selepas berbincang dengan Pak Deddy, sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bersama di depan Puskesmas Magelang Selatan <img src='http://albert.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_106" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img class="size-medium wp-image-106" src="http://albert.dagdigdug.com/files/2010/06/copy-of-img_3392-300x225.jpg" alt="Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan</p></div>
<p>Harapan kami, pengalaman yang kami berikan buat Mas Didieb ini bermanfaat sebagai bekal kehadirannya ada acara di Hanoi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/26/mengantar-mas-didieb-melihat-implementasi-simpus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/23/ibu/</link>
		<comments>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/23/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 08:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albert.dagdigdug.com/2010/06/23/ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Saya dapat tulisan ini dari sebuah milis yang saya ikuti. Sangat menyentuh.. ================================ Ibu&#8230; Ini adalah tulisan yang sangat indah. Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah Jangan tergesa. Ini adalah harta karun Bagi yang beruntung masih mempunyai &#8230; <a href="http://albert.dagdigdug.com/2010/06/23/ibu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dapat tulisan ini dari sebuah milis yang saya ikuti. Sangat menyentuh..</p>
<p><span>==========================</span>======</p>
<p>Ibu&#8230;</p>
<p>Ini adalah tulisan yang sangat indah.</p>
<p>Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah<br />
Jangan tergesa. Ini adalah harta karun</p>
<p>Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah<br />
Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi<br />
Bagi para ibu, kamu akan mencintainya<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8211;</p>
<p>Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.<br />
&#8216;Apakah jalannya jauh?&#8217; tanyanya.<br />
Pemandunya menjawab: &#8216;Ya, dan jalannya berat.<br />
Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini&#8230;<br />
Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.&#8217;</p>
<p>Tetapi ibu muda itu sedang bahagia.</p>
<p>Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada<br />
tahun-tahun ini.<br />
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga<br />
untuk mereka<br />
Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.<br />
Matahari bersinar atas merekad an ibu muda itu berseru:<br />
&#8216;Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.&#8217;</p>
<p>Lalu malam tiba bersama badai.<br />
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.<br />
Ibu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.<br />
Anak-anak itu berkata: &#8216;Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.<br />
Tak ada yang dapat menyakiti kami.&#8217;</p>
<p>Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka.</p>
<p>Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah.</p>
<p>Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:<br />
&#8216;Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.&#8217; Demikianlah anak-anak<br />
itu memanjat terus.<br />
Saat sampai di puncak, mereka berkata: &#8216;Ibu, kami tak mungkin<br />
melakukannya tanpa ibu.&#8217;</p>
<p>Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap<br />
bintang-bintang, berkata:<br />
&#8216;Hari ini lebih baik daripada yang lalu karena anak-anakku sudah<br />
belajar daya tahan<br />
menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian.</p>
<p>Hari ini saya memberi mereka kekuatan.&#8217;</p>
<p>Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.<br />
Awan perang, kebencian dan kejahatan.<br />
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.<br />
Ibunya berkata: &#8216;Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.&#8217;<br />
Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi<br />
yang menuntun mereka melalui kegelapan.<br />
Dan malam harinya ibu itu berkata: &#8216;Ini hari yang terbaik<br />
karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.</p>
<p>Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.<br />
Ibu menjadi tua, kecil dan bungkuk.<br />
Tetapi anak-anaknya tinggi, kuat dan berjalan dengan gagah berani.<br />
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya.</p>
<p>Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat<br />
sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.</p>
<p>Ibu berkata: &#8216;Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.<br />
Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.<br />
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada<br />
di belakang mereka.&#8217;</p>
<p>Dan anak-anaknya menjawab: &#8220;Ibu selalu akan berjalan bersama kami&#8230;<br />
meskipun ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.&#8217;</p>
<p>Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri&#8230;<br />
dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.<br />
Dan mereka berkata: &#8220;Kita tak dapat melihat ibu lagi tetapi dia<br />
masih bersama kita.&#8221;<br />
Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa<br />
hadir dan hidup.</p>
<p>Ibumu selalu bersamamu&#8230; .<br />
Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan.<br />
Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci.<br />
Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.<br />
Ibumu hidup dalam tawa candamu.<br />
Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.<br />
Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.<br />
Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/<br />
Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.<br />
Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.</p>
<p>Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!</p>
<p>Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.<br />
Semoga kita tidak pernah mengabaikan begitu saja ibu kita&#8230;<br />
Teruskan juga pada para laki-laki&#8230; . Karena mereka juga punya ibu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://albert.dagdigdug.com/2010/06/23/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

