Situs jaringan sosial mengubah cara kita berteman?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca slideshow The Real Life Social Network v2. Sebenarnya artikel itu ditulis untuk para pengembang situs jaringan sosial, tapi saya merasa pengguna situs jaringan sosialpun akan mendapat manfaat dari membaca artikel ini. Bila Anda punya waktu, bacalah artikel tersebut. Tapi bila tidak, Anda bisa membaca artikel saya ini, yang sedikit banyak merupakan ringkasan dari artikel tersebut :) Selamat menikmati.

==========================================

Siapa di antara Anda yang tidak memiliki akun Facebook? Saya tidak akan heran bila banyak dari Anda yang memilikinya. Hampir setiap orang yang saya kenal memilikinya. Mereka yang akrab dengan internet biasanya memilikinya.

Teman2 kita di Facebook biasanya adalah teman2 kita di dunia nyata, walau kadang tidak juga demikian. Para selebritis biasanya punya banyak teman yang tidak dikenalnya secara pribadi. Tiap orang biasanya punya teman dari berbagai macam pergaulan hidupnya di dunia nyata. Ada sanak saudara, ada teman sekolah atau kuliah, ada teman kerja (bisa ada lebih dari satu kelompok teman, bila kita bekerja pada lebih dari satu tempat), ada teman relasi sosial (teman arisan, teman perkumpulan keagamaan, teman satu kelompok hobi, dll), mungkin ada kelompok teman lain lagi.

Meski belakangan ditambahkan fitur kelompok teman, tapi umumnya orang sudah terlanjur meletakkan semua temannya, yang berasal dari berbagai latar belakang pertemanan itu, pada satu kelompok besar. Selain itu, pengelompokan teman sifatnya juga tidak diwajibkan. Karena cenderung merepotkan, orangpun akhirnya mengabaikan pengelompokan itu, dan membiarkan semua temannya ada dalam satu kelompok besar.

Dalam dunia nyata, manusia cenderung berperilaku sesuai dengan kelompok di mana ia sedang berada. Tiap kelompok memiliki ciri komunikasi tersendiri, memiliki topik pembicaraan tersendiri, dan memiliki tata aturan sendiri.

Sebut saja ada seorang bernama Andi. Andi adalah seorang mahasiswa fakultas ekonomi. Dalam lingkungan teman2nya di kampus, mungkin Andi lebih banyak berbincang seputar topik kuliah atau kegiatan kampus. Ia menggunakan bahasa Indonesia di sana. Namun, selain sebagai seorang mahasiswa, Andi juga aktif dalam sebuah klub sepakbola. Saat berada bersama teman2 klubnya, mungkin ia banyak berbicara seputar topik pemain2 tenar sepakbola, atau hasil2 pertandingan klub sepakbola idola. Tutur bahasa yang digunakan cenderung lebih santai, tidak seformal saat Andi berada di kampus. Andi kebetulan juga memiliki banyak sanak saudara di desa. Di desa sana, walau pengaruh modernisasi telah mulai masuk, sanak saudara Andi masih hidup lekat dengan budaya Jawa. Saat bersama sanak saudaranya, Andi menggunakan bahasa Jawa, dan banyak berbincang seputar apa dan bagaimana sanak saudara yang masih ada.

Jika suatu saat Andi dan semua kenalannya masuk ke Facebook, maka semua akan berada pada posisi yang sama, yaitu teman Andi. Mereka semua, teman kampus, teman klub sepakbola, dan sanak saudara Andi, akan melihat semua kegiatan Andi di situ. Misalnya Andi menulis status “jadi main bola nggak nih?”, maka semua teman Facebook Andi akan membacanya, meski mungkin hanya teman main sepakbola Andi yang memahaminya dan mungkin menanggapinya. Jika suatu kali ada seorang teman Andi yang iseng men-tag Andi pada sebuah foto konyol, tidak semua teman Facebook Andi akan menanggapinya secara positif. Bayangkan bila kasus ini terjadi pada seseorang yang bekerja, dan kebetulan atasannya atau relasi usahanya juga menjadi teman Facebook dari orang tersebut.

Andi mewakili kebanyakan pengguna situs jaringan sosial, tidak hanya Facebook. Kebanyakan pengguna situs jaringan sosial meletakkan semua teman mereka, dari berbagai latar belakang pertemanan, dalam satu kelompok yang sama, yang mampu melihat hal yang sama persis dari akun kita. Situs jaringan sosial juga tidak begitu mendukung pemisahan kelompok teman ini. Fitur disediakan, tapi diletakkan di dalam, dan bukan sesuatu yang wajib untuk digunakan. Makin tinggi peluang untuk terjadi kesalahpahaman dan kesalahcitraan terhadap seseorang.

Situasi itu masih ditambah pula dengan mudahnya bagi seseorang untuk berteman dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan. Beberapa kali saya diajak berteman dengan orang (atau lebih tepatnya: akun) yang sama sekali tidak saya kenal. Tidak ada salam perkenalan apapun darinya. Bahkan di situs jaringan sosial yang ditujukan untuk membangun relasi profesional seperti LinkedIn juga terjadi yang demikian. Beberapa kali saya menerima ajakan berteman dari seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, belum pernah bertemu atau bercakap, baik di dunia nyata ataupun di dunia nyata.

Lalu bagaimana?

Yang penting bagi kita sebagai pengguna situs jaringan sosial adalah, menyadari bahwa situasi pertemanan di dunia maya berbeda dengan situasi pertemanan di dunia nyata. Di dunia nyata, terdapat “sekat2″ yang memisahkan lingkungan pertemanan yang satu dengan yang lain. Di dunia maya, “sekat” itu bisa dibilang nyaris tidak ada. Kondisi semacam ini membutuhkan kebijaksanaan dan kehati2an kita sebagai pengguna untuk menempatkan diri secara tepat di lingkungan pertemanan dunia maya.

Jalan lain yang bisa kita tempuh adalah, menggunakan fitur yang telah disediakan untuk membuat “sekat” itu dengan sebaik2nya. Butuh waktu dan tenaga untuk menyusunnya, tapi mungkin hasilnya akan sepadan. Mungkin.

Kita juga perlu bijaksana dalam menerima ajakan pertemanan dari orang lain. Apakah orang itu sungguh seseorang yang pernah kita kenal? Informasi yang kita sediakan di profil maya kita juga akan tersedia bagi orang tersebut nantinya, bila kita memasukkannya dalam daftar teman kita.

Saya pribadi sedang menilik ulang langkah saya di dunia pertemanan maya ini, mencoba mencari langkah yang tepat untuk saya.

Bagaimana dengan Anda?

Posted in Budaya, Internet | Tagged , , , , | 3 Comments

Cincin kawin

Kira2 tiga setengah tahun yang lalu, saya dan istri saya (waktu itu calon istri) sering meluangkan waktu untuk window shopping ke toko2 perhiasan. Kami ingin mencari sepasang cincin kawin yang bagus menurut selera kami, dan sesuai untuk ukuran kantong saya. Entah atas alasan apa, kami bersepakat untuk lebih memilih cincin dengan bahan emas putih ketimbang cincin dari emas kuning.

Di luar soal harga, yang sudah jelas batasannya: ukuran kantong pembeli, soal bentuk cincin memang tidak ada kriterianya, semua tergantung selera si pembeli, yang bisa berbeda2 antara satu orang dengan orang lainnya. Setelah sekian banyak cincin kami lihat dan timang, kami berdua tertarik pada sepasang bentuk cincin, yang akhirnya kami beli dan pakai.

Cincin kawin kami

Cincin kawin kami

Mengapa cincin dijadikan salah satu simbol ikatan pernikahan? Orang sering bilang bahwa bentuk lingkaran adalah bentuk yang sempurna, tidak terputus. Dan di dalamnya ada doa dan harapan, agar pernikahan antara dua orang yang memakainya juga tidak terputuskan.

Lalu apa yang istimewa dari cincin kawin kami? Masing2 dari cincin kami terdiri dari dua bagian, yang bisa dipasangkan begitu rupa sehingga membentuk cincin yang utuh. Bagian2 itu berbeda bentuknya tapi saling melengkapi, sehingga pas ketika digabungkan. Kami memandang bahwa lelaki dan perempuan yang terikat dalam satu pernikahan tetaplah dua pribadi yang berbeda. Memang mereka disatukan dalam ikatan pernikahan, tapi mereka tetaplah pribadi yang unik. Kami berharap cincin kami itu selalu mengingatkan kami, bahwa kami memang berbeda, dan akan terus berbeda, tapi juga akan terus berusaha menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan saling mengisi.

Tepat tiga tahun yang lalu, kami mulai mengenakan cincin itu. Semenjak itu pula kami telah berbagi hidup, melalui dan mengatasi berbagai tantangan. Perjalanan kami masih panjang. Dengan penyertaan dan bimbingan Tuhan, kami akan terus berupaya untuk semakin kompak dan saling mengisi.

Buat istriku, selamat hari ulang tahun pernikahan..

Posted in Hidup | Tagged , , | Leave a comment

Cake bake di Windows

Menggunakan bake CakePHP untuk pertama kali sering membingungkan, terutama bagi pengguna Windows. Padahal masalahnya sederhana saja: letak eksekusi perintah bake. Kita ambil saja contoh yang ada di manualnya. Di situ dikatakan:

“Once we have the table structure in the database we can start cooking. Use cake bake to quickly create your models, controllers, and views.”

Manual hanya menyebutkan agar kita menjalankan “cake bake” untuk dengan mudah menyiapkan model, controller, dan view (dari obyek2 yang tergambar pada tabel yang sudah dibuat).

Katakanlah, aplikasi kita ada di “D:\Localhost\simpleacl”, di dalamnya ada subfolder app, cake, dan vendors. File cake.bat terletak di folder “D:\Localhost\simpleacl\cake\console”. Biasanya, orang akan pindah ke folder tersebut dan menjalankan cake.bat dari situ. Ini pangkal kebingungan. Kita akan ditanya path aplikasi kita.

cake bake dari folder cake\console

cake bake dari folder cake\console

Jika kita mau menyiapkan model, controller, dan view, lebih mudah jika kita menjalankan cake bake dari root folder aplikasi kita, dalam contoh ini berarti “D:\Localhost\simpleacl”.

cake bake dari root folder aplikasi

cake bake dari root folder aplikasi

Semoga bermanfaat.

Posted in IT | Tagged , , , | 1 Comment

Mengantar Mas Didieb melihat implementasi Simpus

Dari pagi hingga siang kemarin, saya pergi ke Puskesmas Salam, kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang, dan Puskesmas Magelang Selatan bersama Mas Jojok, Uun, Mas Didieb Ajibaskoro, dan Ruth.

Ini semua berawal dari perkenalan yang berlanjut dengan komunikasi via email beberapa bulan yang lalu dengan Mas Didieb. Beliau kebetulan diundang untuk hadir dalam sebuah acara dengan subtopik mengenai software healthcare di Hanoi. Sebagai bekal untuk hadir di sana, beliau ingin mendapatkan informasi mengenai Simpus. Saya mewakili tim Simpus mengundangnya datang ke Yogya untuk kami antar melihat beberapa puskesmas pengguna Simpus di daerah dekat Yogya.

Perjalanan kami awali dengan menuju ke Puskesmas Salam. Kehadiran kami disambut meriah oleh beberapa staf puskesmas, yang sudah membawa beberapa masukan dan saran untuk perbaikan Simpus. Beberapa masalah kecil yang dapat ditangani langsung saya tangani di tempat, sementara perbaikan yang lebih berat saya bawa pulang untuk PR. Mas Didieb merasa tertarik dengan antusiasme staf puskesmas terhadap Simpus. Ini karena saat berangkat, Mas Didieb menyangka akan mendapati staf puskesmas yang duduk pasif di depan komputer, menanti instruksi dari tim Simpus untuk mencoba ini dan itu. Setelah masalah yang sudah teratasi disampaikan ke staf puskesmas, perjalanan kami lanjutkan ke kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang.

Tidak begitu banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, tapi Mas Didieb dan Ruth sempat mencoba membantu kami mengatasi masalah pada Simkes yang terinstall di sana. Belum berhasil, tapi ada hal yang mereka temukan yang mungkin dapat membantu saya mencari penyebab masalahnya. Sempat berbincang sejenak dengan Pak Dwi, perjalanan segera kami lanjutkan ke Puskesmas Magelang Selatan.

Di Puskesmas Magelang Selatan, saya melakukan update Simpus, sementara Mas Didieb dan Ruth berbincang dengan Pak Deddy. Mas Didieb bertanya pada Pak Deddy, seberapa jauh manfaat keberadaan Simpus untuk pasien yang berkunjung ke puskesmas. Pak Deddy menjelaskan, bahwa efek langsungnya susah dilihat. Ya tentu saja data yang akurat, alur data yang lebih cepat dari bagian ke bagian, menunjang baiknya pelayanan untuk pasien, tapi tidak terlihat langsung. Saya menambahkan bahwa jika sistem informasinya baik, efek langsungnya ke pasien tidak akan banyak terasa, tapi jika sistem informasinya buruk, efek (buruk) langsungnya ke pasien akan langsung terasa (pelayanan jadi jauh lebih lama, data sering salah, dll). Pak Deddy menjelaskan bahwa manfaat keberadaan Simpus lebih terasa bagi staf puskesmas yang tiap bulan harus menyusun laporan ke Dinas Kesehatan. Penyusunan laporan dapat dilakukan seketika, tidak lagi perlu banyak waktu. Hal baik lain bagi staf puskesmas adalah, proses input data selesai bersamaan dengan selesainya proses pelayanan pasien. Tidak ada lagi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan selepas usainya pelayanan pasien.

Selepas berbincang dengan Pak Deddy, sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bersama di depan Puskesmas Magelang Selatan :)

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Harapan kami, pengalaman yang kami berikan buat Mas Didieb ini bermanfaat sebagai bekal kehadirannya ada acara di Hanoi.

Posted in Simpus | Tagged , , | 2 Comments

Ibu

Saya dapat tulisan ini dari sebuah milis yang saya ikuti. Sangat menyentuh..

================================

Ibu…

Ini adalah tulisan yang sangat indah.

Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah
Jangan tergesa. Ini adalah harta karun

Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah
Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi
Bagi para ibu, kamu akan mencintainya
———— ——— ——— ——— ——— ——— –

Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.
‘Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.
Pemandunya menjawab: ‘Ya, dan jalannya berat.
Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini…
Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’

Tetapi ibu muda itu sedang bahagia.

Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada
tahun-tahun ini.
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga
untuk mereka
Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.
Matahari bersinar atas merekad an ibu muda itu berseru:
‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’

Lalu malam tiba bersama badai.
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.
Ibu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.
Anak-anak itu berkata: ‘Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.
Tak ada yang dapat menyakiti kami.’

Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka.

Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah.

Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:
‘Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’ Demikianlah anak-anak
itu memanjat terus.
Saat sampai di puncak, mereka berkata: ‘Ibu, kami tak mungkin
melakukannya tanpa ibu.’

Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap
bintang-bintang, berkata:
‘Hari ini lebih baik daripada yang lalu karena anak-anakku sudah
belajar daya tahan
menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian.

Hari ini saya memberi mereka kekuatan.’

Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.
Awan perang, kebencian dan kejahatan.
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.
Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’
Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi
yang menuntun mereka melalui kegelapan.
Dan malam harinya ibu itu berkata: ‘Ini hari yang terbaik
karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.

Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
Ibu menjadi tua, kecil dan bungkuk.
Tetapi anak-anaknya tinggi, kuat dan berjalan dengan gagah berani.
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya.

Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat
sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.

Ibu berkata: ‘Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.
Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada
di belakang mereka.’

Dan anak-anaknya menjawab: “Ibu selalu akan berjalan bersama kami…
meskipun ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’

Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri…
dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
Dan mereka berkata: “Kita tak dapat melihat ibu lagi tetapi dia
masih bersama kita.”
Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa
hadir dan hidup.

Ibumu selalu bersamamu… .
Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan.
Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci.
Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.
Ibumu hidup dalam tawa candamu.
Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.
Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/
Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.
Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.
Semoga kita tidak pernah mengabaikan begitu saja ibu kita…
Teruskan juga pada para laki-laki… . Karena mereka juga punya ibu

Posted in Hidup | Tagged | Leave a comment