Kita sering mendengar kalimat di atas. Terutama dalam situasi ketika ada satu pihak menganggap pihak lainnya menyalahpahami dia, dan demi menyelesaikan persoalan (atau setidaknya agar persoalan terlihat selesai) terucaplah kalimat tersebut.
Semakin saya pikirkan, semakin saya ragu akan ketulusan permintaan maaf itu. Mari coba kita lihat lebih dalam.
Sebetulnya, mengapa orang meminta maaf? Orang mengajukan permintaan maaf saat menyadari ia telah melakukan suatu kekeliruan, menyesali kekeliruannya itu, dan meminta maaf atas kesalahannya itu kepada orang yang menderita akibat kesalahannya tadi. Ada satu syarat penting saat orang mengajukan permintaan maaf: si peminta maaf tahu dan menyadari apa kesalahannya. Maka menjadi aneh ketika orang meminta maaf tanpa tahu apa kesalahannya. Lebih aneh lagi bila orang meminta maaf padahal ia masih bersiteguh (secara implisit ataupun eksplisit) bahwa ia sesungguhnya tidak bersalah.
Pada kalimat judul di atas, permintaan maaf diberikan “jika saya dianggap salah”. Apa artinya? Artinya si peminta maaf sesungguhnya masih belum tahu apa sesungguhnya kesalahan dia. Lebih jauh lagi, bahkan ia masih merasa diri tidak bersalah, karena ia hanya “dianggap salah” oleh orang lain. Ada perbedaan mendasar antara “dianggap salah” dan “merasa salah”. Pada “dianggap salah”, penilaian salah muncul dari orang lain, bukan dari diri sendiri. Sedangkan pada “merasa salah”, penilaian salah muncul dari diri sendiri, bukan dari orang lain.
Permintaan maaf yang tulus, muncul dari kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat. Permintaan maaf yang sekedar basa-basi, muncul dari kesadaran bahwa diri sendiri tidaklah salah, yang sesungguhnya salah adalah orang lain yang menuding diri kita bersalah.
Saya mencoba mengingatkan diri terus menerus tentang hal ini.