“Jika saya dianggap salah, maka saya minta maaf”

Kita sering mendengar kalimat di atas. Terutama dalam situasi ketika ada satu pihak menganggap pihak lainnya menyalahpahami dia, dan demi menyelesaikan persoalan (atau setidaknya agar persoalan terlihat selesai) terucaplah kalimat tersebut.

Semakin saya pikirkan, semakin saya ragu akan ketulusan permintaan maaf itu. Mari coba kita lihat lebih dalam.

Sebetulnya, mengapa orang meminta maaf? Orang mengajukan permintaan maaf saat menyadari ia telah melakukan suatu kekeliruan, menyesali kekeliruannya itu, dan meminta maaf atas kesalahannya itu kepada orang yang menderita akibat kesalahannya tadi. Ada satu syarat penting saat orang mengajukan permintaan maaf: si peminta maaf tahu dan menyadari apa kesalahannya. Maka menjadi aneh ketika orang meminta maaf tanpa tahu apa kesalahannya. Lebih aneh lagi bila orang meminta maaf padahal ia masih bersiteguh (secara implisit ataupun eksplisit) bahwa ia sesungguhnya tidak bersalah.

Pada kalimat judul di atas, permintaan maaf diberikan “jika saya dianggap salah”. Apa artinya? Artinya si peminta maaf sesungguhnya masih belum tahu apa sesungguhnya kesalahan dia. Lebih jauh lagi, bahkan ia masih merasa diri tidak bersalah, karena ia hanya “dianggap salah” oleh orang lain. Ada perbedaan mendasar antara “dianggap salah” dan “merasa salah”. Pada “dianggap salah”, penilaian salah muncul dari orang lain, bukan dari diri sendiri. Sedangkan pada “merasa salah”, penilaian salah muncul dari diri sendiri, bukan dari orang lain.

Permintaan maaf yang tulus, muncul dari kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat. Permintaan maaf yang sekedar basa-basi, muncul dari kesadaran bahwa diri sendiri tidaklah salah, yang sesungguhnya salah adalah orang lain yang menuding diri kita bersalah.

Saya mencoba mengingatkan diri terus menerus tentang hal ini.

Posted in Hidup | Tagged , | Leave a comment

Dipaksa mendengar musik

Musik mewarnai hidup kita. Di banyak tempat kita mendengar musik. Di rumah, di mobil, di tempat kerja, di mal, di tempat resepsi, hampir bisa dibilang di mana saja. Musik membantu kita untuk rileks. Musik mempengaruhi mood kita. Tiap orang punya jenis musik kesukaannya sendiri.

Seringkali musik itu diputar begitu saja, tanpa kita meminta. Di mal misalnya. Kita tidak bisa meminta agar musik A, atau B yang diputar, sesuai keinginan kita. Kita tidak bisa memilih. Walau demikian, bagi saya dalam kasus di mana musik diputar sebagai pengisi latar belakang suara, ini tidak menjadi masalah.

Menjadi masalah buat saya ketika musik itu tidak lagi berfungsi sebagai pengisi latar belakang suara, tapi dimainkan begitu kerasnya sehingga mendominasi ruang dengar saya. Saya jadi tidak lagi punya pilihan untuk mendengar musik itu atau tidak. Saya dipaksa untuk harus mendengarkannya. Di tempat resepsi misalnya. Saya amat jengkel ketika musik dimainkan begitu keras, tidak peduli bagus tidaknya musik itu dimainkan. Saya tidak lagi dapat bertegur sapa dan bercakap dengan nyaman di situ. Sekedar untuk berbicara dengan teman lama di sebelah saja kadang harus sedikit berteriak. Tempat resepsi, yang seharusnya menjadi ajang berbagi kebahagiaan, tempat bertegur sapa dengan kerabat atau teman lama, menjadi ajang di mana semua orang harus mendengarkan musik, tak ada pilihan lain.

Saya suka mendengarkan musik. Tapi saya tidak suka bila musik dijejalkan ke telinga saya.

Posted in Hidup | Tagged | Leave a comment

Secuil cerita soal keberuntungan

Kemarin malam saya bertemu dengan Pak Rovicky di Warung Bakmi Mbah Hadi, Terban. Ngobrol ngalor ngidul, sampai makannya sudah kelar, ngobrolnya masih lanjut. Sampai akhirnya istri beliau (amat pengertian rupanya) memesan lagi segelas teh hangat, sekedar biar tidak begitu sungkan dengan tetangga kanan kiri (maaf Bu, membajak Pak RDP ngobrol kelamaan, makasih juga traktirannya) :)

Sempat menyinggung soal posting zona nyamannya Bank Al, sampai akhirnya Pak Rovicky bercerita tentang mengupayakan keberuntungan.

Waktu bekerja di Brunei Shell Petroleum, beliau bekerja sebagai konsultan lepas yang dikontrak per 6 bulanan. Pekerjaan di Shell ini relatif lebih lancar ketimbang saat sebelumnya bekerja di perusahaan lain di Jakarta, karena supportnya yang jauh lebih baik (terang saja, lha Shell perusahaan besar). Proyek yang tadinya ditargetkan selesai dalam 2-3 tahun, akhirnya bisa diselesaikan dalam waktu 1 tahun 3 bulan. Sempat ada komentar dari beberapa rekan kerja beliau di sana (sesama konsultan lepas), itu strategi mengerjakan proyek yang salah, lha dengan kecepatan pengerjaan yang sedang2 saja klien sudah puas, dan masa kontrak bisa panjang, mengapa harus dikerjakan dengan lebih cepat (sehingga masa kontraknya juga singkat)? Sounds familiar? :)

Beliau tidak menyesal, bahkan dalam surat keterangan dari Shell, disebutkan bahwa “beliau mampu menyelesaikan proyek setahun lebih cepat dari yang direncanakan”. Belakangan terbukti bahwa sepotong kalimat tersebut menjadi kunci masuk yang sakti untuk masuk ke perusahaan2 lain yang lebih besar. Keberuntungan?

Saya punya cerita lain. Ada seorang teman, supel orangnya. Saat ia kuliah dulu, suatu kali ia lupa bahwa pada hari tersebut ada test lisan yang akan diadakan oleh dosen. Masuk ruang kelas dengan hati galau, karena merasa tidak ada persiapan. Melihat papan tulis kotor, dengan begitu saja ia membersihkan papan tulis, tanpa ada yang meminta. Sekembalinya ia ke tempat duduknya, ia ditanya oleh si dosen, “Mas, nomor mahasiswanya berapa?”. Teman saya kaget, menyangka akan ditanyai. Ia menyebutkan nomor mahasiswanya. Segera setelah itu dosennya berkata, “Silakan keluar ruangan Mas, untuk test lisan kali ini Anda saya beri nilai A, karena Anda sudah membantu saya membersihkan papan tulis.” Keberuntungan?

Orang sering mengira keberuntungan adalah sesuatu yang datang begitu saja, tanpa perlu upaya apa2. Tapi dari pengalaman beliau, pengalaman teman saya tadi, dan banyak pengalaman teman lain yang pernah saya dengar, saya yakin bahwa keberuntungan adalah sesuatu yang sebenarnya diupayakan, sedari jauh hari, sebelum hasil yang dipandang sebagai keberuntungan itu tampak. Bahkan ketika upaya2 itu dilakukan tidak dengan maksud untuk mendapatkan suatu keberuntungan di kemudian hari. Pak Rovicky menyelesaikan proyek itu lebih cepat dari rencana hanya karena beliau merasa itulah yang sepatutnya dilakukan seorang profesional. Teman saya membersihkan papan tulis begitu saja hanya karena melihat papan tulis masih kotor, tanpa ada pikiran apa yang ia lakukan itu akan membuatnya lolos dari test lisan hari itu.

Melakukan hal yang baik, atau malah hal yang terbaik, memang tidak selalu berujung pada apa yang kita kenal sebagai keberuntungan. Tapi seringkali keberuntungan tercipta karena banyak hal baik yang pernah kita lakukan di waktu2 sebelumnya.

Posted in Hidup | Tagged | 4 Comments

Buku tutorial pemrograman

Tadi sore, saya ditanya oleh seorang teman, “Kalo mau belajar CakePHP, biasanya pake buku apa ya?”. Pertanyaan sederhana, tapi saya kesulitan menjawabnya. Tersadarlah saya, bahwa sudah sekian tahun lamanya, saya tidak membeli buku tutorial pemrograman. Sekarang, ide membeli buku tutorial terdengar aneh bagi saya.

Saya masih ingat, sekitar 10 tahun yang lalu, seorang teman memiliki sebuah buku tentang PHP, berbahasa Inggris (waktu itu buku PHP berbahasa Indonesia belum ada). Buku itu menjadi semacam kitab keramat bagi kami. Forum di internet yang membahas PHP belum semarak sekarang. Untuk sekedar menggandengkan webserver atau database dengan PHP saja masih perlu perjuangan, setting sana setting sini. Buku itu menyajikan hampir semua jawab atas pertanyaan kami tentang PHP. Sampai akhirnya beberapa waktu kemudian, saya dan teman2 hafal urutan bab2nya. 10 tahun yang lalu, buku tutorial penting sekali.

Waktu berjalan, akses internet semakin mudah dan murah, kandungan informasi di internet juga semakin padat. Saya tidak pernah lagi membeli buku tutorial pemrograman. Salah satu sebabnya, karena buku semacam itu cepat usang informasinya, tidak jarang malah sudah usang dalam hitungan bulan. Informasi terbaru selalu tersedia di internet. Berkat Google, informasi apapun mudah dan cepat sekali ditemukan.

Saya jadi ingin tahu, apakah buku2 tutorial yang banyak dipajang di toko buku itu laris terjual? Jika tidak, mengapa masih banyak ditawarkan? Atau memang masih ada banyak orang yang membutuhkan buku2 tutorial itu? Yang mungkin belum menikmati akses internet sebanyak saya?

Yang jelas, akhirnya jawaban yang saya berikan pada si teman tadi, “Wah, saya tidak pernah beli buku soal CakePHP. Dulu saya cari manualnya di internet, dan kemudian saya belajar dari manual itu.”

Posted in Buku, IT | Tagged , , , | 1 Comment

Menghabiskan makanan

Saat usia saya belum lagi menginjak 10 tahun, saya pernah diajak ayah saya pergi ke beberapa kota di Jawa Timur selama beberapa hari. Pada tahun2 itu, biasanya setahun sekali beliau mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur untuk mengunjungi beberapa toko yang menyalurkan bola bulutangkis buatan industri rumah tangga kami. Biasanya beliau pergi sendiri, namun pada kali itu, saya diajak. Kami berdua menumpang bus antar kota. Saya menyadari, bepergian dengan anak kecil tidaklah mudah. Dengan kendaraan umum pula. Tapi ayah saya tampak senang pergi mengajak anaknya. Saya merasa kecil di tengah ramainya orang. Di dalam bus yang berisi banyak orang, terlebih di dalam terminal, yang tidak hanya penuh orang, tapi juga bus2 raksasa itu.

Suatu siang, kami makan di sebuah warung di dekat terminal. Seingat saya, warung tenda itu menghidangkan kari ayam. Entah mengapa, siang itu saya tidak begitu suka dengan hidangan itu. Saya tidak menghabiskannya. Saya ingat, saat itu ayah saya menanyai saya, “Yakin kamu tidak bisa menghabiskannya?” Saya mengangguk, yakin tidak akan menghabiskannya. Saya tahu, beliau agak kecewa, walau hanya sekilas terbersit di wajahnya. Beliau segera berdiri untuk membayar makanan kami. Saat kami beranjak hendak pergi dari warung itu, ada kejadian yang tidak akan saya lupakan dari benak saya. Pemilik warung, yang mengangkat mangkuk2 kami, menyerahkan mangkuk saya yang masih setengah berisi makanan pada seorang bocah penyemir sepatu yang duduk di belakang warung tenda itu. Saya amat terkejut ketika si bocah, yang kurang lebih seusia saya itu, segera menyantap lahap sisa makanan saya! Saya tidak begitu ingat, apakah ayah saya, yang juga melihat kejadian itu mengatakan sesuatu pada saya. Seingat saya beliau tidak mengatakan apapun. Beliau hanya memandangi saya, menyakinkan dirinya bahwa anaknya belajar sesuatu dari apa yang dilihatnya, dan kemudian menggandeng saya pergi untuk melanjutkan perjalanan.

Saya, yang biasanya memang sudah amat jarang tidak menghabiskan makanan karena itulah yang diajarkan orang tua saya, menjadi lebih jarang lagi tidak menghabiskan makanan. Jika biasanya yang teringat saat makan adalah betapa untuk makanan itu bisa terhidang di piring saya banyak orang dan proses yang terlibat di dalamnya sehingga saya harus menghargainya, maka setelah kejadian tersebut, yang tertempel di benak saya adalah wajah si bocah penyemir sepatu itu.

Saya amat jengkel melihat orang tidak menghargai makanan yang dihidangkan untuknya. Di warung makan, di perjamuan pernikahan, di acara yang diadakan tetangga, di mana saja, saya merasa amat kesal pada orang yang tidak menghabiskan makanannya, terlebih mereka yang memilih dan menakar sendiri makanan yang akan dimakannya. Makanan yang dibuang mewakili tenaga dan waktu manusia yang tersia2, hanya untuk berakhir di tempat sampah.

Posted in Hidup | Tagged | 1 Comment